Foto dari pexels.com

Tahun ini (2018), usia saya memasuki 39 tahun. Bentar lagi masuk 40an. Sudah tidak muda lagi, meskipun belum bisa dibilang tua juga… hehehe. Kata orang, inilah masa paling produktif seseorang.

Menjelang usia 40an, terkadang saya merenung tentang hidup. Banyak hal… mulai dari pekerjaan hingga kehidupan nanti di masa tua. Tapi, akhir-akhir ini saya banyak memikirkan tentang kesehatan, tentang program penurunan berat badan saya yang tak berhasil juga, dan implikasi kesehatan yang semakin mengganggu.

Terlebih lagi hasil medical check up sebelum puasa yang hasilnya menunjukkan banyak sekali bintang. Walau banyaknya bintang itu sebenarnya tidak mengejutkan, karena keluhan kesehatannya sudah mulai nampak sejak beberapa tahun silam.

Sepertinya sudah 4 tahun belakangan ini saya sudah rutin minum obat tekanan darah tinggi. Dari saat itu pun saya di sarankan untuk menurunkan berat badan oleh dokter jantung dan dirujuk ke dokter gizi klinik. Bertahun-tahun sejak itu, berat badan saya tak kunjung mencapai ideal. Bukannya tidak pernah turun, tapi turun-naik-turun-naik lagi.

Di ambang usia 40 tahun, masalah kesehatan itu sepertinya tidak bisa saya pandang enteng lagi. Dulu bisa berkata masih muda ini. Kalau sekarang, jangan sampai terlambat untuk berubah.

Bukan hanya tekanan darah tinggi, gula darah puasa yang konsisten di atas normal juga mesti mendapatkan perhatian yang serius. Gula darah tinggi ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak 2008. Namun, saya belum bisa menerima jika saya sebenarnya telah menderita diabetes. Penyangkalan itu terus saya alami hingga saat ini. Saya belum bisa menerima kena diabetes di usia muda, itu kan penyakit orang tua.

Satu lagi hasil medical check up yang mesti saya tangani dengan baik adalah cardiomegali ringan alias pembesaran jantung ringan. Sebelumnya, seorang dokter ahli jantung pernah memperingatkan soal ini setelah melihat hasil foto rontgen dada saya. Pembesaran jantung ini besar kemungkinan akibat dari hipertensi yang tidak diobati secara rutin sebelumnya.

Melihat hasil check up kesehatan saya yang terbaru itu, sepertinya saya harus mengambil langkah serius. Hasil ini bukan sekadar untuk tahu, tapi semestinya bisa membangkitkan kesadaran diri saya untuk menjalani hidup dengan lebih baik.

Saya penggemar karbohidrat. Dulu, saya bisa makan nasi sepanci hanya dengan lauk sambel doang. Saya bisa melahap mi instan tiga bungkus sekaligus dengan lauk kacang atom. Walau sekarang sudah saya hindari, nyatanya belum begitu berhasil karena berat saya masih di atas 90 kg. Kemarin (27/06/2018), berat saya masih bertengger di 94.1 kg.

Mudah-mudahan banyaknya bintang di hasil medical check up saya tempo hari bisa menjadi momentum baru untuk kembali ke trek yang benar. Saya menyadari sudah keluar trek lagi. Terbukti berat saya yang sempat turun hingga 90 kg beberapa waktu yang lalu pernah merangkak naik hingga lebih dari 97 kg lagi.

Kalau ingin membuat masa datang menjadi masa-masa yang tetap produktif, maka tidak ada pilihan lain selain kembali ke trek yang benar. Menyusuri jalan-jalan penuh tantangan dan memerlukan perjuangan menuju berat badan ideal. Karena saran pertama di hasil medical check up saya adalah turunkan berat badan. Itulah pangkal dari semua keluhan kesehatan yang selama ini saya rasakan.

Better living, better health, better future.

Jakarta, 28/06/2018
Mr. KS

Artikel Terkait:

Kenapa Saya Belum Berhasil Mencapai Berat Badan Id... Sumber foto makassarguide.com Tadi pagi saya sarapan seporsi nasi kuning ditambah satu gorengan tahu isi. Seharusnya saya tidak melakukan itu. ...
Godaan Saat Berbuka Puasa Sejatinya, bulan ramadhan ini bisa dijadikan saat yang tepat untuk menurunkan berat badan. Asal niatnya jangan sampai salah ya. Puasa tetap dilakukan ...
Diet DASH, Menurunkan Berat Badan dan Menormalkan ... Salah satu masalah yang sering dialami oleh seseorang dengan kelebihan berat badan atau semok seperti saya adalah tekanan darah tinggi alias hipertens...