Sumber foto makassarguide.com

Tadi pagi saya sarapan seporsi nasi kuning ditambah satu gorengan tahu isi.

Seharusnya saya tidak melakukan itu. Ya, saya tahu.

Pagi ini saya berniat menjaga asupan karbohidrat ke dalam tubuh saya. Dimulai dengan tidak sarapan nasi dan sejenisnya. Saya berangkat ke kantor hanya meneguk segelas air putih. Tapi, itu bertahan hanya sesaat setelah tiba di kantor.

Begitu menginjakkan kaki di kantor, benak saya dipenuhi menu sarapan yang ada di kantin basement. Di sana ada nasi goreng, nasi kuning, ketan, aneka gorengan, soto kudus, dll. Saya berusaha bertahan dengan menyalakan komputer. Tapi, pikiran saya terus saja tertuju ke kantin bawah.

Karena tidak konsen, saya memutuskan ke bank saja untuk membayar beberapa kewajiban sebelum jatuh tempo. Kebetulan letak bank tidak begitu jauh di gedung samping kantor. ATM banknya masih lengang, maklum masih pagi. Saya pun bisa menyelesaikan pembayaran dengan cepat.

Setiba di lantai dasar, seharusnya saya berjalan ke lift bagian kanan. Lift yang akan mengantarkan saya kembali ke kantor. Alih-alih ke sana, kaki saya malah melangkah ke lift sebelahnya yang menghubungkan lantai dasar dengan basement. Saya pun memencet tombol B2, di mana kantin berada.

Sempat terbersit dalam benak saya untuk balik kanan. Kembali ke kantor. Tapi, kaki saya sepertinya tidak merespon. Tahu-tahu saya sudah duduk manis di depan salah satu gerobak yang menjual aneka pilihan untuk sarapan.

Sebenarnya saya bisa saja memilih jus buah segar tanpa gula untuk memuaskan keinginan untuk sarapan. Tapi, sekali lagi kontrol saya lepas. Saya memilih nasi kuning ditambah tahu isi. Nikmat sekali.

Kenikmatan yang hanya bertahan sesaat. Setelah semuanya ludes berpindah ke dalam perut, yang timbul kemudian penyesalan. Mengapa begitu mudahnya saya kalah oleh godaan makanan.

Inilah masalah terbesar saya dalam menurunkan berat badan. Inilah kenapa saya belum berhasil mencapai berat badan ideal hingga saat ini. Mudah tergoda oleh makanan. Saya kurang persisten.

Persisten adalah kemampuan untuk terus melakukan sesuatu meskipun dalam situasi sulit.

Kejadian seperti di atas tidak terjadi sekali dua kali saja, tapi berulang kali. Contoh kemarin sore, saat mengantar anak dan istri belanja kebutuhan sekolah ke mall. Setelah beli tas sekolah, anak perempuan saya merengek minta makan. Katanya lapar. Kami pun masuk ke salah satu restoran yang ada dalam mall.

Istri saya memesan nasi goreng bebek cabe ijo, anak perempuan saya memesan nasi goreng Italia, dan anak lelaki saya memesan nasi ayam goreng mentega. Ketika ditanya saya ingin memesan apa oleh istri, saya jawab “saya pesan minum aja, es teh tawar”. Saat itu memang sudah menjelang malam. Jadi, saya putuskan untuk tidak makan lagi. Apalagi nasi putih dan kawan-kawannya.

Selang beberapa saat makanan pun datang. Mulailah istri dan anak-anak menyantap pesanan mereka. Nampaknya begitu lezat. Awalnya saya bisa bertahan dengan es teh tawar saja. Lama-lama saya mulai mencicipi nasi goreng istri saya. Dan ketika istri saya tidak bisa menghabiskan pesanannya, saya pun dengan sukarela melahap habis sisanya yang masih lebih dari separuh. Demikian juga ketika anak perempuan saya menyisakan beberapa suap nasi goreng Italia. Dalam sekejap saya tandaskan.

Begitu susahnya bertahan dari godaan makanan… hehehe.

Persisten ini harus saya latih agar sesulit apapun godaan makanannya saya bisa bertahan. Bertahan pada program yang seharusnya saya jalankan. Karena masalah saya saat ini bukan hanya berat badan, tapi implikasinya pun harus diperhatikan.

Tujuan pengelolaan asupan makanan ke dalam tubuh saya bukan hanya bertujuan untuk menurunkan berat badan, tapi juga untuk mengontrol gula darah saya tetap dalam batas normal. Dan inilah tantangannya… hehehe.

Better living, better healt, better future.

Jakarta, 02/07/2018
Mr. KS

Artikel Terkait:

Kembali ke Trek yang Benar Foto dari pexels.com Tahun ini (2018), usia saya memasuki 39 tahun. Bentar lagi masuk 40an. Sudah tidak muda lagi, meskipun belum bisa dibilang tu...
Kenapa Orang Gemuk (Termasuk Saya) Susah Menurunka... Foto dari pixabay.com Dari hasil perhitungan, BMI (indeks mass tubuh) saya itu berada di angka 35,4 dan masuk kategori obesitas kelas 2. Bukan lag...
Oops, Bad News Sosodara! Gawat... sungguh gawat! Anda mungkin pernah membaca tulisan saya terdahulu, tentang keberhasilan saya sebagai pengelola blog ini menurunkan berat b...